Karang Dima Menata Desa dari Hulu ke Hilir
Sumbawa, lintassamudera.com.
Dari teras kantor desa yang baru rampung dibangun, Kepala Desa Karang Dima, Ibrahim Besari, menyebut satu kata kunci dalam kepemimpinannya sejak 2018: menyelesaikan yang paling mendasar. Pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga sanitasi menjadi fondasi yang ia susun perlahan, dari dusun ke dusun.
Kantor Desa Karang Dima
Tampak depan Kantor Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, Selasa (20/01/2026). Kantor desa ini menjadi pusat pelayanan publik sekaligus simbol pembangunan infrastruktur desa dalam tujuh tahun terakhir. (Dinda/ Lintas Samudera)
Sumbawa, lintassamudera.com — Dari teras kantor desa yang baru rampung dibangun, Kepala Desa Karang Dima, Ibrahim Besari, menyebut satu kata kunci dalam kepemimpinannya sejak 2018: menyelesaikan yang paling mendasar. Pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga sanitasi menjadi fondasi yang ia susun perlahan, dari dusun ke dusun.
“Kami tidak membuat program berdasarkan keinginan pemerintah desa, tetapi berdasarkan kebutuhan masyarakat,” ucap Ibrahim Besari saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/01/2026) siang.
Selama tujuh tahun terakhir, Pemerintah Desa Karang Dima memfokuskan anggaran pada layanan dasar. Di sektor kesehatan, penanganan stunting menjadi prioritas utama. Data desa mencatat, pada 2018 terdapat 114 kasus stunting. Angka itu kini menyusut menjadi sekitar 40 kasus.
Pada 2025, pemerintah desa melakukan intervensi lebih rinci terhadap delapan anak dengan pemeriksaan kesehatan mendalam serta pemberian makanan tambahan berupa susu selama dua bulan, bekerja sama dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan. “Sekarang satu bulan sudah berjalan, satu bulan lagi masih berproses,” terangnya.
Di bidang pendidikan anak usia dini, enam PAUD aktif beroperasi di Karang Dima. Seluruh anak usia PAUD telah terlayani. Program ini berjalan konsisten sejak awal masa jabatannya.
Pembangunan fisik juga menyentuh hampir seluruh wilayah desa. Kantor desa dan gedung serbaguna yang kini berdiri menjadi simbol pelayanan publik yang diperbaiki. Infrastruktur jalan, drainase, saluran, dan irigasi dibangun secara bertahap sesuai kebutuhan dusun.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar desa adalah banjir. Dua titik langganan genangan Jalan Bangkong dan Simpang Pemulung perlahan ditangani. “Sekarang sudah tidak lagi merendam rumah warga dan jalan negara. Tinggal penyempurnaan,” jelas Ibrahim. Pemerintah desa menargetkan penanganan banjir semakin terlihat hasilnya pada 2026.
Di sektor sanitasi, Karang Dima telah mencapai status Open Defecation Free (ODF). Sekitar 98 persen rumah tangga memiliki jamban keluarga, melalui program dana desa, dukungan kabupaten, Dana Alokasi Khusus, serta Baznas.
›
daerah ›
news Karang Dima Menata Desa dari Hulu ke HilirPemberdayaan masyarakat dijalankan melalui penguatan Tim Penggerak PKK dengan menerapkan sepuluh program pokok PKK. Kegiatan keagamaan pun rutin digelar setiap bulan di seluruh dusun.
Namun, Ibrahim tak menutup mata terhadap keterbatasan. Penanganan stunting, banjir, dan rumah kurang layak huni belum sepenuhnya tuntas. Menurutnya, sinergi dengan pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat masih menjadi kunci penyelesaian. “Kami masih membutuhkan dukungan lintas pemerintah agar persoalan-persoalan itu bisa dituntaskan,” ungkapnya.
Memasuki 2026, tantangan baru muncul. Dana desa mengalami penurunan signifikan akibat kebijakan anggaran nasional. Pemerintah desa pun mengencangkan ikat pinggang. “Kami fokus ke pelayanan dasar—pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Perencanaan pembangunan desa, kata dia, tetap berbasis partisipasi warga. Aspirasi dihimpun melalui musyawarah dusun, lalu dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Transparansi anggaran ditunjukkan lewat papan informasi kegiatan yang dipasang di ruang publik.
Bagi Ibrahim, keberhasilan program tidak diukur dari laporan semata. “Indikatornya kelihatan di masyarakat. Kalau jamban dipakai, kesehatan membaik, lingkungan bersih itu hasil nyata,” paparnya.
Target pemerintah desa pada 2026 sederhana namun mendasar: masyarakat sejahtera. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan tercukupi, kesehatan terjamin, serta keamanan dan ketertiban terjaga. “Komitmen kami jelas, anggaran harus efisien dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Di Karang Dima, pembangunan tak selalu tampak megah. Tapi dari kantor desa yang kini berdiri kokoh, arah kebijakan itu disusun: menyentuh yang paling dekat dengan kehidupan warga.
Source: LintasSamudra.com
Reporter : Dinda Nanda Rizty | Editor : Bagus Setyabudi